Saatnya lebih Memuliakan Ulama

aiconManusia berpijak, berjalan dan hidup dari perspektif pemikiran dan adaptasi lingkungan yang membesarkannya. Peradaban yang terbangun hingga kini, membuktikan bawa landasan pemuliaan terhadap ilmu dan orang berilmu sangat mengemuka. Apresiasi dan adaptasi inilah yang menopang unggul dan munculnya peradaban suatu bangsa pada jamannya.

Indonesia kaya dengan keanekaragaman peradaban dari berbagai latar belakang sosiokultural. Identitas budaya dan ke Islaman membangun simbol simbol dan proses pemuliaan yang berbeda terhadap figur-figur ilmuwan dan ulama (ulama dalam perspektif ini cenderung ditujukan pada para faqih di bidang agama). Realitas yang muncul dari perjalanan perkembangan budaya di negeri ini menghasilkan jalur dan bobot yang berbeda antara ilmuwan dan ulama dari apresiasi dan dukungan terhadap eksistensi dan keberfungsian peran mereka.

Institusi dan infarastruktur bagi para ilmuwan, agaknya lebih mengemuka dan melembaga. Sementara institusi dan infrastruktur bagi ulama lebih terbelakang dan memudar atau kurang terdukung. Memang di peradaban “Indonesia Masa Kini” lebih wajar itu terjadi, tapi kurang menguntungkan bagi berkembangnya masyarakat “Islam Indonesia” menjadi masyarakat “Indonesia yang Islami”.

Boleh ada diskursus memang dalam perspektif ini di dunia kebebasan Indonesia. Tetapi bila kita memuliakan harkat martabat manusia pada fitrahnya, maka memuliakan para Ulama adalah kuncinya. Ulama warosatul Anbiya, yang mewarisi para Nabi, tentu bukan dalam pandangan kemuliaan status, tetapi juga kemuliaan keilmuannya bagi pencerahan umat

Maka ada beberapa langkah sederhana untuk umat “Islam Indonesia” bisa menjadi masyarakat Indonesia yang Islami:

1. Menghargai dan menempatkan ilmu agama tidak secara dikotomis, melainkan membingkai kehidupan dalam standar petunjuk-petunjuk kebenaran hakiki dari Allah SWT dan para Rasul.

2. Menempatkan ilmu sebagai sasaran dan porsi utama dalam skema kehidupan keseharian, menjadi kebiasaan, dan membudayakan ilmu disetiap pribadi, keluarga dan masyarakat.

3. Menyediakan waktu, potensi dan energiĀ  yang lebih banyak untuk mengkaji ilmu langsungĀ  bersumber dari para ulama.

4. Memfasilitasi secara optimal mengalirnya ilmu para ulama dengan memanaj dengan atraktif, sistematis dan sustainable.

5. Menempatkan pusat-pusat pengkajian keilmuan sebagai referensi problem solving dalam mengatasi permasalahan harian (pemahaman, dan impelementasi fatwa ulama).

…… (berlanjut)

Comments are closed.