Remaja menghilang dari Masjid?

 

azk_5593

Fenomena menarik era 2017 ini, selain hingar bingar “om telolet om”, gadget minded, etc, adalah mulai merata fenomena hilangnya remaja-remaja yang berjamaah di Masjid. Era sekarang?? Ya biasalah, namanya anak remaja, mereka sedang mencari jati diri,menikmati alam kebebasan. Kalau saatnya datang, mereka akan kembali ke masjid lagi. Begitu pandangan beberapa kalangan. Kata kuncinya adalah mengapa remaja “harus” akrab dengan masjid??

Maraknya Taman Pendidikan Al Qur’an di masjid-masjid, hampir pasti diikuti anak-anak seusia TK dan Sekolah Dasar saja. Kalau ada remaja.. mereka ustadz-ustadzah yang lolos screening jaman masih nyaman di masjid. Otokritik boleh jadi juga dapat kita layangkan pada kita-kita manajer-manajer masjid yang belum memberikan ruang dan daya tarik yang memadai untuk mereka-mereka remaja muslim kita.

Sekolah terdepan memang pada ayahanda dan ibunda putra putri kita, siapa lagi? perspektif rumah pertama yang mewarnai  adalah Domestik Publik Figurnya anak-anak. Apapun yang dikatakan dan dilakukan ayah, apapun yang dikatakan dan dilakukan ibu, adalah Grand Master bagi mereka. Atau sebaliknya pada suatu titik, ayah bunda menjadi anti tesa anak-anak kita. Kurikulum nya pun tak terlepas dari Experience dari Ayah Bunda. Kadang copy paste, apa yang dirasakan, dialami, dipikir ortu yang di paste kan dalam mendidik anak. Kadang anak menjadi duplikat orang tua, bahkan sampai  ke presisi paling akurat.

Tersadarkan banyak para ortu setelah problem menimpa buah hati mereka. Terlebih masa SMP-SMA yang mengindikasikan mulai terasingnya ortu dari putra putri mereka sendiri. Kesadaran sejak dini sangat dibutuhkan setiap benak ortu memeliki STRATEGI jitu menyelamatkan motivasi, keyakinan, pola pikir dan sikap serta perilaku anak. Masa tumbuh yang ekstra cepat , menjadikan remaja berubah menjadi makhluk yang sama sekali lain dengan yang dibayangkan ortunya. Bahkan untuk sekedar berbagi, ortu harus mengembara menemukan jalur pikir yang nyambung dengan anaknya yang telah melesat ke “dunia lain”

 

Maka sebelum terlambat ada beberapa terapi jitu membangun jembatan kehidupan yang dapat dilakukan ortu untuk membimbing buah hati tercintanya.

  1. Komitmen dan kesepakatan serta kesepahaman ayah Bunda menjalin strategi komunikasi dan perhatian kepada anak.
  2. Komunikasi terprogram dari ayah dan bunda dengan “dunia perkembangan pikiran dan emosi anak”
  3. Interaksi intens dalam moment moment yang diadakan untuk mengeratkan hubungan emosional.
  4. Menjalin penghargaan ortu terhadap pencarian potensi special si buah hati, apapun wujudnya
  5. Membangun link permanen dalam urusan keyakinan, dengan menempatkan ortu sebagai pembelajar terhadap petunjuk-petunjuk Alloh dan merepresentasikannya pada sikap , perkataan dan tindakan yang konstruktif dengan anak.
  6. Memberikan Perhatian dan Waktu yang cukup untuk berbagi dengan anak-anak kita, tanpa harus menjadikan konflik dengan fungsi ortu sebagai penanggungjawab nafkah keluarga.
  7. Menghadirkan ortu sebagai sosok yang selalu dirindukan anak, mampu memenangkan kompetisi dari manapun dalam hal meraih perhatian anak.
  8. Mewadahi aspirasi anak kedalam keputusan-keputusan dialogis yang dilakukan bersama, termasuk dalam merumuskan dan memecahkan masalah-masalah harian.

Tentu masih banyak langkah untuk menuju kesana, untuk kali ini 8 hal ini coba kita renungkan bersama, semoga bermanfaat.  (Abu Fatih).

Comments are closed.