Kendala Penyelenggaraan UN, bergainning financial anggaran UN, teknis cetak, pengemasan hingga distribusi setidaknya merupakan gambaran posisi sebagian sudut pendidikan Republik kelahiran 1945 ini. Analisa banyak pakar sah dicermati, para beliau yang berwenang tentunya kita percaya mampu menyelesaikan dengan tepat dan bijaksana. bagi yang punya daya sebaiknya bantu, yang tidak berdaya silahkan didoakan untuk kebaikan semua. Diskusi kurikulum 2013 pun masih bergulir. Maka lebih utuh berbagai indikator mestinya menyadarkan kita semua untuk kembali review pendidikan anak negeri tercinta ini, secara jujur dan mendasar. Para Bapak/Ibu pimpinan institusi terkait, pengelola dan praktisi pendidikan tentu tahu kita mestinya harus bagaimana. Tetapi kenapa tidak???
Anak sebagai investasi tidak hanya dunia tapi juga ukhrowi memang terlalu berat dibebani kepentingan-kepentingan sistem yang muaranya kurang menyentuh anak itu sendiri. Berangkat dari konsep normatif mencerdaskan kehidupan bangsa yang bermartabat yang merupakan berkat Rahmat Allah SWT dan disertai keinginan luhur untuk memajukan kesejahteraan umum; maka pengelolaan negara terhadap pendidikan mesti dikembalikan pada hajat awal sebagaimana yang dirumuskan para Founding Fathers kita. boleh jadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sekarang ini mendapat imbas dari konstalasi makro situasi dan kondisi bangsa yang bercita-cita luhur ini.
Jelang 2 Mei yang biasanya kita merayakan, mungkin 2 Mei 2013 ini mungkin lebih patut kita keluarga Indonesia ber”Muhasabah” untuk berbenah dalam kapasitasnya masing-masing. Bila terlalu normatif setidaknya setiap insan pendidikan Indonesia akan bermunajat kepada Allah Sang Kholiq untuk mengurai benang pendidikan nasional yang mestinya tidak kusut. Konsentrasi menghadapi realitas sendi-sendi kehidupan masa kini , konsentrasi memperhatikan kebutuhan anak-anak kita, sejenak meninggalkan euforia jelang hajatan politik 2014? Memang berat, mungkin terlalu berat arus iklim yang sedemikian memprioritaskan kepentingan anak dan masa depan bangsa yang pingin bermartabat ini.
Para pendidik yang sedang sibuk dengan beban sertifikasi, sekolah yang dibingkai koridor akreditasi, birokrasi Dinas Pendidikan Kabupaten/kota dan Propinsi dengan mekanisme pertanggungjawaban proyek-proyek berkandungan financial, kompromi lintas instansi, hingga ke yang lain yang tidak berkepentingan negara ini maju. Apa ada? Jelas Bapak Ibu yang mulia faham mereka yang menyalahgunakan wewenang dan kuasanya termasuk dalam kategori yang tidak ingin negara ini maju. Para orang tua yang semakin diuji mencari nafkah halal ditengah gelora persaingan hidup yang sedemikian.
Awal tahun ini , 26 Jan 2013 lalu dari Jogja, ada arus berbeda dilakukan orang-orang tua istimewa dari komunitas masyarakat peduli pendidikan yang menyelenggarakan Konggres Ortu nya Bina Anak Sholeh. Wacana yang sedikit berbeda dari 3 alinea awal tersebut. Apa pemikiran Bapak-Ibu dari keluarga besar BIAS itu?
Mari kita sadari, anak-anak kita akan memasuki zaman yang sangat berbeda dengan zaman kita. Mereka, anak-anak kita, akan menyambut masa depan luar biasa dengan tantangan yang luar biasa pula. Demi bertahan hidup dan menggapai kesuksesan, mereka memerlukan daya dukung dan piranti sukses yang luar biasa pula. Salah satu daya dukung terpenting tersebut adalah pendidikan terbaik yang diperoleh melalui institusi pendidikan formal terbaik, selain tentu saja yang diberikan oleh keluarga terbaik, keluarga istimewa, ayah-bunda istimewa. Ibarat tanaman dan buah yang hanya dapat tumbuh dari tanah yang subur, anak istimewa akan lahir dari keluarga istimewa. Memang, buah hanya tumbuh dari tanah yang thayyib (Q.S. Al-A’raf: 58).
Mewujudkan keluarga istimewa dan menjadikan diri ayah-bunda istimewa semestinya menjadi keinginan kuat setiap keluarga, setiap ayah-bunda, karena memang ayah-bunda adalah pendidik pertama dan utama bagi anak. Bagaimanakah karakteristik ayah-bunda istimewa? Andaikan ada ayah-bunda yang selalu memenuhi keinginan anak. Apakah si anak akan menganggap ayah-bunda mereka istimewa? Dengan pemahamannya yang masih terbatas, sangat mungkin, anak tersebut berpandangan demikian. Demikian pula, dengan pemahamannya yang terbatas pula, orang tua demikian, akan menganggap diri mereka istimewa karena telah dengan sepenuh hati berusaha membahagiakan buah hati mereka. Di sisi lain, dengan paradigma yang berbeda, ayah-bunda yang berusaha menjadikan diri mereka istimewa memandang bahwa menuruti semua keinginan anak justeru sangat sangat kontraproduktif. Demikianlah, istimewa bisa dipersepsikan sangat berbeda.
Apa sesungguhnya karakteristik ayah-bunda istimewa? Perlu disadari bahwa tidak terdapat kriteria baku mengenai ayah-bunda istimewa. Hal itu sangat bergantung pada banyak hal, terutama pada budaya dan keyakinan yang dianut keluarga. Tulisan ini dapat dipandang sebagai alternatif yang dapat dipertimbangkan untuk membentuk ayah-bunda istimewa, membentuk keluarga istimewa.
Karakteristik-Karakteristik Ayah-Bunda Istimewa
Apa yang dimaksud dengan istimewa? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, istimewa berarti khas, khusus, lain daripada yang lain, atau luar biasa. Dengan demikian, keluarga istimewa dapat dimaknai sebagai keluarga yang memiliki karakteristik khusus, istimewa, berbeda dengan keluarga-keluarga pada umumnya. Apa sajakah karakteristik-karakteristik itu?
Karakteristik pertama dan mendasar dari ayah-ibu istimewa adalah memiliki visi atau impian yang lurus dan kuat. Visi ini harus menjadi visi seluruh anggota keluarga. Apakah visi tersebut? Visi utama dan tertinggi dari setiap keluarga muslim adalah menghindarkan keluarga dari siksa api neraka (Q.S. At-Tahrim: 6). Demi mewujudkan visi ini, ayah-bunda berusaha memberikan pendidikan terbaik, yakni pendidikan yang mengajarkan akidah yang kokoh bagi anak, yakni mengenalkan bahwa hanya Alloh SWT yang berhak disembah, mengenalkan Rasululloh SAW, mengenalkan para sahabat-sahabat beliau, dan mengenalkan dasar-dasar tauhid lainnya. Akidah yang kokoh inilah yang menyelamatkan diri dari siksa api neraka. Tanpa akidah yang benar, segala perilaku yang dipersepsikan baik menjadi tidak bermakna di mata Alloh SWT. Menanamkan akidah yang kokoh menjadi tugas utama orang tua. Rasululloh SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu-bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sementara itu, Al-Qur’an juga memberikan kisah teladan bagaimana Luqman al-Hakim memprioritaskan pendidikan tauhid. Begini nasihatnya, “ …hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Alloh, sesungguhnya mempersekutukan Alloh adalah benar-benar kedzaliman yang besar” (Q.S. Luqman: 13).
Pemahaman yang baik terhadap visi ini menjadikan seluruh anggota keluarga akan saling mendukung terhadap setiap hal yang mendukung pencapaian visi tersebut dan sebaliknya saling mengingatkan apabila sebaliknya. Dengan visi ini, misalnya, seorang ibu tidak rela anak perempuannya berpenampilan ala kadarnya yang tidak menutup aurat karena akan menjerumuskannya ke dalam api neraka. Dengan visi ini, misalnya, seorang anak dapat mengingatkan orang tua mereka untuk tidak menghalalkan segala cara dalam mencari rizki.
Karakteristik kedua dari ayah-bunda istimewa adalah memiliki niat yang lurus dalam mendidik anak. Mendidik anak bukan semata-mata untuk membahagiakan mereka atau agar dipersepsikan bahagia oleh anak, melainkan lebih mulia dari itu, yakni dalam rangka beribadah kepada Alloh SWT (Q.S. Adz-Dzariat: 56). Dengan cara pandang demikian, ayah-bunda mendidik dan melakukan berbagai upaya kebaikan untuk buah hati mereka bukan semata-mata agar mereka dipersepsikan istimewa, melainkan demi memperoleh ridlo Alloh SWT. Mereka berpandangan bahwa kalau Alloh SWT sudah ridlo, maka sangat mudah bagi Alloh SWT untuk secara ajaib menjadikan anak memandangnya istimewa.
Karakteristik ketiga dari ayah-bunda i stimewa adalah menjadikan diri mereka teladan. Tanpa keteladanan, segala petuah kebaikan orang tua menjadi tidak bermakna. Bahkan memberikan petuah kebaikan tanpa keteladanan merupakan perilaku yang amat dibenci Alloh SWT (Q.S. Ash-Shaff: 3). Anak akan tumbuh dengan apa yang telah diteladankan oleh pendidik mereka, terutama ayah-bunda mereka. Apabila ayah-bunda menghendaki anak menjadi pribadi istimewa yang menghormati ayah-bundanya, maka mereka perlu memberi teladan nyata, yaitu ayah menunjukkan kecintaannya pada ibu mereka, demikian pula Ibunda menunjukkan teladan nyata dalam mencintai ayah mereka. Lebih dari itu, orang tua, ayah-bunda, perlu memberikan teladan bagaimana mencintai kakek-nenek mereka, yaitu orang tua dari ayah-bunda mereka.
Inilah nasihat Imam Syafi’i bagi pendidik, termasuk orang tua, “hendaklah satu hal yang pertama dimulai dalam mendidik anak adalah memperbaiki dirimu. Mata-mata mereka bergantung pada matamu. Dan kebaikan mereka adalah kebaikan apa yang engkau lakukan. Keburukan bagi mereka adalah sesuatu yang kau benci”. Jauh sebelum itu, Rasululloh SAW menggunakan seluruh ucapan dan perilaku untuk memberikan teladan terbaik dalam mendidik anak. Suatu ketika seorang anak dalam pangkuan Rasululloh SWA pipis dan membasahi baju beliau. Ketika ibu dari sang anak tersebut menunjukkan kekesalannya, justeru ditegur Rasululloh SAW dengan dengan mengatakan bahwa air kencing itu dapat dengan segera dicuci, tetapi kekagetan anak tidak dapat diganti. Belasan abad berikutnya, yaitu saat ini, ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa dalam kepala anak terdaat jutaan sel halus yang menuntut perlakuan yang patut agar tidak rusak. Inilah teladan mulia bagaimana memperlakukan anak dengan mulia.
Urgensi keteladanan ini dituntunkan oleh Rasulululloh SAW sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim bahwa barangsiapa yang memberikan contoh baik, maka baginya pahala atas perbuatan baiknya dan pahala orang-orang yang mengikuti hingga hari kiamat, yang demikian itu tidak menghalangi pahala orang-orang yang mengikutinya sedikitpun. Dan barang siapa yang memberikan contoh buruk, maka baginya dosa atas perbuatannya dan orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Yang demikian itu tanpa mengurangi sedikitpun dosa orang-orang yang mengikutinya.
Karakteristik keempat dari ayah-bunda istimewa adalah mencintai anak tanpa syarat. Dengan kata lain, ayah-bunda mendidik anak atas dasar cinta. Cinta adalah bahasa universal yang mudah dipahami oleh siapapun, termasuk anak. Sorot mata atau gerak tubuh orang tua jauh lebih cepat ditangkap oleh anak daripada pesan lisan apapun. Secara naluriah, anak dapat mengenali senyum atau sapaan tulus dan membedakannya dengan senyuman atau sapaan basa-basi. Anak juga dapat mengenali kemarahan yang dilakukan sebagai ekspresi cinta atau sebagai ekspresi kejengkelan semata. Cinta adalah bahasa hati yang dengan mudah ditangkap oleh hati. Cinta akan mengejawantah pada bahasa cinta. Ayah-bunda yang kaya cinta tidak akan segan untuk memberikan pujian secara proposional kepada anak sebagai ungkapan cinta. Dengan ringan, ia akan berkata, “Kamu telah melakukan pekerjaan dengan sangat baik.” Di lain kesempatan, ia mungkin akan mengatakan “Bagaimana menurut pendapat kalian?” untuk menghargai peran anak. Ia juga tak berat untuk mengucapkan “terima kasih ya …” untuk menghargai pendapat anak. Pendidik kaya cinta juga lebih banyak menggunakan kata ‘kita’ daripada ‘saya’ untuk menunjukkan kehangatan hubungan dengan anak.
Perlu dipahami bahwa cinta tidak selalu identik dengan kelembutan. Ia juga tidak identik dengan keserbabolehan. Cinta mungkin saja wewujud pada tindakan tegas demi terwujudnya ketertiban atau kebaikan anak didik. Orang tua boleh marah bila memang diperlukan; marah untuk alasan yang tepat, dengan kadar yang tepat, dan pada waktu yang tepat. Anak yang menaruh kepercayaan kepada ayah-bunda akan memaknai bahwa tindakan orang tua, termasuk marah, sebagai wujud kecintaan itu. Marah karena cinta, menegur karena cinta, atau bahkan membentak karena cinta.
Karakteristik kelima dari ayah-bunda istimewa adalah memberikan doa terbaik untuk anak-anak mereka. Saling mendoakan perlu dibudayakan oleh seluruh anggota keluarga. Bahkan, untuk memberikan teladan terbaik, sesekali orang tua perlu menyebutkan satu persatu nama-nama anak-anak mereka dalam doa-doa mereka dan memperdengarkannya kepada anak-anak. Ini penting agar anak-anak mengetahui bahwa ayah-bunda mereka betul-betul menganggap mereka istimewa. Di sisi lain, anak-anak juga diajari dan dibiasakan untuk mendoakan ayah-bunda mereka. Orang tua dapat mengkreasi doa-doa mereka sendiri atau menggunakan doa-doa yang terdapat dalam Al-Qur’an, seperti Q.S. Ali Imron: 38, “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha pendengar doa” atau menggunakan doa sebagaimana tertera pada Q.S. Ibrahim: 39, “Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap mendirikan shalat”.
Karakteristik keenam dari ayah-bunda istimewa adalah membangun komunikasi yang baik dengan bahasa yang hangat, santun, dan tidak didasari oleh prasangka negatif. Terdapat beberapa ragam jenis komunkasi yang dibangun antara ayah-bunda dengan anak. Ragam komunikasi tersebut bergantung pada usia anak. Secara umum, untuk anak berusia 0 – 6 tahun, ayah-bunda semestinya memberikan kasih sayang tak terbatas dan tak bersyarat. Pada usia 7 – 14 tahun, ayah-bunda sudah mulai menanamkan kedisiplinan dan tanggung jawab kepada anak. Menurut hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, “perintahkan anak-anak kamu untuk sholat ketika berusia tujuh tahun dan pukullah mereka apabila meninggalkannya pada usia sepuluh tahun”. Pada usia anak 15 – 21 tahun, ayah-bunda perlu memposisikan diri sebagai sahabat dengan anak-anak. Komunikasi tidak dibangun atas dasar komando atau perintah, melainkan atas dasar diskusi dan kesepakatan. Ayah-bunda perlu memposisikan sebagai pendengar yang baik bagi anak-anak. Untuk anak usia lebih dari 21 tahun, orang tua perlu memposisikan anak sebagai individu yang lebih betul-betul mandiri dalam memutuskan hal-hal yang berimplikasi pada masa depan mereka.
Dalam berkomunikasi dengan anak, ayah-bunda bersikap hangat, tetapi tegas. Selain itu, orang tua perlu memposisikan anak layaknya orang dewasa yang perlu dihormati dan dihargai, tidak dibentak dan diteriaki. Kiranya orang tua harus memperhatikan firman Alloh SWT, “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (QS: Luqman: 19). Apabila berteriak dimaksudkan sebagai ungkapan marah, lantas, apakah kita tidak boleh marah? Tentu saja boleh, bahkan pada situasi tertentu kita wajib marah, misalnya apabila mendapat anak melanggar etika atau syariat. Apabila berteriak dimaksudkan untuk mendisiplinkan anak, lantas, apakah kita boleh membiarkan anak berperilaku seenaknya? Tentu saja tidak. Kiranya kira perlu mengelola diri agar dapat marah atau mendisiplinkan anak tanpa harus meninggikan intensitas suara. Kita perlu menyadai bahwa anak-anak kita berpendegaran normal, tidak tuli. Lagi pula, rumah atau ruang kelas juga terbatas luasnya, sehingga berteriak tidak bermanfaat. Lebih dari itu, berteriak juga sangat kontraproduktif, misalnya anak akan membalas berteriak. Apabila berteriak sudah menjadi kebiasaan, maka lama kelamaan anak akan menyepelekan teriakan itu. Anak akan berpikir, “Memang Ayah saja yang bisa berteriak, saya juga bisa”. Atau anak juga akan berpikir, “Ah, biarkan saja. Nanti juga diam sendiri”. Bahkan sangat mungkin mereka akan mempertanyakan apakah orang tua atau guru mereka menyayangi mereka. Efek lainnya, karena pendidikan sejatinya adalah keteladanan, maka sangat mungkin anak akan meneladani kebiasaan tidak baik itu.
Sebagai pendidik, ayah-bunda perlu mengantisipasi agar tindakan anak yang berpotensi membuat jengkel tidak terjadi. Hal itu dapat dilakukan, misalnya dengan mengajak anak membuat kesepakatan dan aturan yang jelas tentang berbagai hal. Orang tua perlu bersepakat dengan anak tentang jam berapa anak harus bangun, berangkat sekolah, boleh bermain, belajar, dan sebagainya. Cara demikian berpotensi untuk menciptakan ketertiban dan oleh karenanya akan menghindari teriakan. Selain itu, untuk mengurangi teriakan, orang tua perlu lebih mengedepankan tindakan nyata, bukan teriakan. Misalnya, ketika anak mencoret-coret tembok dengan spidol, orang tua dapat mengambil spidolnya dan menyediakan kertas gambar.
Karakteristik ketujuh dari ayah-bunda istimewa adalah selalu memberikan kesempatan kedua terhadap kesalahan yang dilakukan anak. Ayah-bunda perlu menyadari bahwa dalam batas-batas tertentu, kesalahan adalah manusiawi dilakukan oleh anak sebagaimana juga dilakukan oleh ayah-bunda di masa kanak-kanak. Bahkan dalam batas tertentu, memberikan kesempatan untuk mencoba dan melakukan kesalahan dapat menumbuhkan kreativitas anak.
Karakteristik produktif lainnya dari ayah-bunda atau keluarga istimewa adalah memiliki kebiasaan, tradisi, atau rutinitas yang hangat dan produktif yang menjalin kebersamaan seluruh anggota keluarga. Terdapat banyak ragam dari rutinitas itu, misalnya membaca bersama, berolahraga bersama, belanja bersama, melakukan travelling bersama, mengorganisasikan rumah bersama, memasak bersama, dan sebagainya. Salah satu tradisi penting itu adalah dengan menyediakan atau mengalokasikan waktu secara khusus, jika mungkin tiap hari, untuk membangun kebersamaan. Waktu strategis itu, misalnya adalah ba’da Maghrib sampai Isya’. Pada saat ini, perlu dihindari hal-hal yang dapat mengalihkan perhatian, misalnya dengan mematikan televisi atau tidak mengizinkan televisi hidup pada jam tersebut. Pada saat ini, ayah-bunda dapat meminta anak untuk menceritakan aktivitas atau pengalaman menarik anak di sekolah. Sebaliknya, orang tua dapat pula menceritakan pengalaman kerja mereka atau menceritakan berbagai kisah teladan untuk menginspirasi mereka. Aktivitas lain yang dapat dilakukan adalah dengan membaca Al-Qur’an bersama. Inilah yang disebut sebagai jam belajar keluarga.
Sebagaimana dikemukakan terdahulu, istimewa bisa dipersepsikan secara berbeda oleh berbeda anak. Inilah beberapa pengakuan anak mengenai ayah-bunda mereka yang dianggapnya istimewa. Katanya, “mereka mencintaiku tanpa syarat, mereka selalu mempercayaiku dan mendukung apa yang aku minati, mereka selalu meluangkan waktu untukku di tengah kesibukan mereka, mereka melakukan perjalanan denganku untuk mempelajari banyak hal di berbagai tempat, dan mereka mencintai suamiku dan demikian pula sebaliknya.
Di samping terdapat beberapa perilaku yang mendukung terwujudnya ayah-bunda istimewa, terdapat beberapa hal yang perlu diwaspadai atau bahkan dihindari dalam mewujudkan ayah-bunda istimewa. Perilaku-perilaku tersebut adalah membedakan-bedakan anak, membandingkan situasi anak sekarang dengan sutuasi masa lalu ayah-bunda, menganggap anak hanya sebagai investasi masa tua orang tua dan menuntut mereka untuk membalas kebaikan orang tua, membiarkan anak tumbuh dengan tanpa pengawasan atau sebaliknya justeru dengan pengekangan yang sangat ketat. Menurut Professor Robert Billingham, Human Development and Family Studies – Universitas Indiana, “Anak terlalu banyak bergaul dengan lingkungan semu di luar keluarga dapat merupakan tragedi yang seharusnya diperhatikan oleh orang tua”.
Perilaku lain yang kontraproduktif adalah memberikan perhatian berlebihan. Menurut psikolog Charles Fay, “Banyak orang tua terlalu lelah memberikan perhatian, cenderung mengabaikan apa yang anak mereka ungkapkan”. Selain itu, hal yang perlu dihindari adalah bertengkar di hadapan anak. Menurut psikiater Sara B. Miller, Ph.D., Saat orang tua bertengkar di depan anak mereka, khususnya anak lelaki, maka hasilnya adalah seorang calon pria dewasa yang tidak sensitif yang tidak dapat berhubungan dengan wanita secara sehat. Orang tua seharusnya menghangatkan diskusi di antara mereka, tanpa anak-anak disekitar mereka. Wajar saja bila orang tua berbeda pendapat tetapi usahakan tanpa amarah. Jangan ciptakan perasaan tidak aman dan ketakutan pada anak. Perilaku kontraproduktif lainnya yang juga perlu dihindari adalah tidak konsisten. Anak perlu merasa bahwa orang tua mereka berperan. Jangan biarkan mereka memohon dan merengek menjadi senjata yang ampuh untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Orang tua harus tegas dan berwibawa dihadapan anak.